Meretas Pendidikan yang Cerdas
Salah satu perbedaan antara pemerintahan orde baru dan era reformasi, adalah adanya Dewan Perwakilan Daerah (DPD) di kompleks gedung DPR/MPR RI senayan, Jakarta. Banyak harapan sebenarnya yang disemaikan dengan adanya keterwakilan daerah di senayan melalui DPD. Namun demikian, dalam tulisan ini harapan di bidang pendidikan merupakan hal utama yang akan dibahas.
Bidang tersebut sengaja dipilih, karena penulis sendiri lahir, besar, dan hidup di kota Malang, yang dikenal sebagai salah satu kota pendidikan di negeri ini. Selain itu memajukan pendidikan merupakan salah satu tujuan didirikannya negeri ini, sebagaimana termaktub di salah satu alinea pembukaan UUD 1945: mencerdaskan kehidupan bangsa. Sebuah tujuan nasional yang secara perlahan telah tergeser oleh kepentingan ekonomi, dimana biaya untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi menjadi relatif mahal bagi sebagian masyarakat kita, yang dalam kesehariannya lebih banyak disibukkan dengan urusan perut. Jika mahalnya biaya pendidikan ke jenjang perguruan tinggi tersebut terus berlangsung, maka fungsi pendidikan sebagai instrumen untuk meningkatkan status sosial masyarakat akan punah dengan sendirinya. Dan pendidikan hanya akan menjadi milik golongan The Have di negeri ini.
Karenanya jika boleh ber-utopia menjadi anggota DPD, maka penulis mencoba untuk menggandeng beberapa BUMN serta perusahaan-perusahaan besar, dengan menapaktilasi jejak almarhum Prof. Kusnadi Hardjasumantri yang memutuskan untuk mengajar ke pelosok-pelosok di tanah air ini, saat masih di bangku kuliah. Selain itu perlu juga memanfaatkan program CSR (Corporate Social Responsibility) / program tanggung jawab sosial perusahaan yang ada. Salah satu hasil kerja kerja keras almarhum Prof. Kusnadi Hardjasumantri ini adalah berhasilnya Adrianus Moi dari Nusa Tenggara Timur yang menyelesaikan studi S-3 di Universitas Gajah Mada, sebagai doktor di bidang moneter, bahkan pernah ditunjuk sebagai Gubernur Bank Indonesia.
Sebagai orang yang pernah aktif di beberapa organisasi kemahasiswaan, penulis berpendapat bahwa konsep yang dibawa oleh almarhum Prof. Kusnadi Hardjasumantri tersebut layak di sebut dengan pendidikan cerdas, yaitu konsep pendidikan yang mengarah pada perkembangan teknologi serta membangun jiwa bangsa ini menjadi jiwa yang bertanggung jawab terhadap setiap apa yang dilakukan, pendidikan yang membangun jiwa kepedulian minimal terhadap lingkungan sekitar dan sesamanya, pendidikan yang ingin membangun sebuah sistem sehat yang tidak saling beradu mengutamakan kepentingan pribadi, sebagaimana telah diajarkan oleh para pendiri bangsa ini. Menurut hemat penulis, dengan adanya metamorfosis PTN menjadi BHMN (Badan Hukum Milik Negara), kepedulian terhadap lingkungan dan sesama cenderung terabaikan, dan mereka yang kurang beruntung akan terpinggirkan dari hiruk pikuknya dunia kampus, mengingat kuota bagi mereka yang kurang beruntung ini hanya berkisar pada angka belasan persen.
Hal penunjang lain yang bisa dilakukan guna mendukung serta mempercepat pelaksanaan konsep pendidikan cerdas tersebut adalah dengan menggandeng beberapa organisasi kemahasiswaan baik yang intra ataupun yan ekstra kampus. Terlepas dari berbagai kepentingan yang mereka bawa, dengan menggandeng mereka, maka secara tidak langsung akan memudahkan keterjangkauan berbagai wilayah Indonesia, dengan luasnya jaringan organisasi kemahasiswaan, dari Sabang sampai Merauke, dari Pulau We sampai Pulau Rote.