MAKNA TRILOGI 17-AN
Sebagai pengguna kartu axis, saya ingin mengeluarkan
opini saya tentang Dirgahayu Negara kita pada thaun ini:
Ada yang istimewa pada Romadhon kali ini, dimana kita akan memperingati 17 agustus atau peringatan kemerdekaan negeri ini yang ke-66, bertepatan dengan peringatan Nuzulul Qur’an.
Dulu 17 Agustus 1945, terjadi di Bulan Romadhon, bahkan bertepatan dengan hari Jum’at, hari dimana Ummat Islam akan dilipatgandakan ibadahnya oleh Allah swt.
Momentum 17 agustus tahun ini yang bertepatan dengan Nuzulul Qur’an hendaknya kita jadikan sebagai titik tolak untuk menjadikan perjalanan hidup ini menjadi lebih baik.
Melalui peringatan 17 Agustus kita mencoba menyelaraskan konsep hidup yang kita miliki agar selaras dengan pola pendidikan karakter yang telah dikembangkan oleh pemerintah.
Karenanya Membangun bangsa yang besar ini dapat kita mulai dari membangun diri. Membangun diri diawali dengan membangun karakter. Karakter yang kuat harus dilandasi dengan kesadaran jati diri. Dalam upaya menemukan jati diri perlu usaha menemukan kembali dan membangun jati diri. Membangun karakter merupakan sebuah proses panjang tiada henti. Bagaikan memahat jiwa sedemikian rupa, sehingga menjadi unik, menarik, dan berbeda, atau dapat dibedakan dengan orang lain. Disiplin diri menjadi kunci dalam setiap upaya membangun dan membentuk karakter. Proses membangun karakter merupakan sebuah proses perjuangan panjang dan ketekunan. Pada dasarnya pembentukan karakter adalah tugas utama pendidikan. Pendidikan hendaknya bukan saja menghasilkan manusia yang bernalar, pandai, memiliki ketrampilan dan bersikap profesional tetapi juga kaya rasa: empati, penghayatan nilai luhur, dan cinta kasih kepada sesama dan alam semesta. Membangun karakter bukan hanya sekedar bisa tetapi juga harus berani. Berani memahami masa lalu kita, mengakui kesalahan yang pernah terjadi, serta mau belajar dari kesalahan, termasuk kesalahan sejarah, sehingga ke depannya bisa menjadi manusia yang lebiah baik dan bisa memperbaiki diri dari waktu ke waktu.
Selain itu sebagai salah satu wujud penghargaan terhadap para pahlawan, kita hendaknya mau meneladani sikap dan tingkah laku para pahlawan melalui sejarah yang ada. Dimana para pahlawan yang ada telah rela mengorbankan energi, waktu dan materi demi terwujudnya kemerdekaan negeri ini.
Proses turunnya Al qur’an sebagai bagian dari sejarah tentu tidak bisa kita lepaskan dari perjalanan hidup nabi Muhammad saw. Sehingga kita pun mau tidak mau juga harus meneladani beliau. Melihat kondisi ummat Islam pada saat al-Quran diturunkan, melalui momentum nuzulul Quran ini, semua peristiwa di masa lalu itu dibangkitkan melalui perenungan. Jadi ada kesamaan konteks ketika al-Quran diturunkan pertama kali dengan kondisi terkini yang secara sosial, politik, ekonomi dan agama memang sedang mengalami masalah serius dan membutuhkan pemecahan. Terutama masalah korupsi yang menggerogoti kehidupan bangsa ini.
Karenanya juga kita juga harus melakukan kontektualisasi ajaran dan pesan yang terkandung dalam peristiwa nuzulul Quran. Sehingga setiap pikiran, perkataan dan perbuatan kita memiliki keselarasan dengan Al qur’an.
Adapun benang merah dari 17 Agustus dan 17 Romadhon kali ini, mungkin bisa kita gambarkan dari hadits nabi: “Hubbul wathon minal iman” yang berarti cinta tanah air merupakan bagian dari iman. Sehingga peringatan dua hari penting tersebut pada hari yang sama di kalender masehi dan kelander hijriyah ini , di satu sisi hendaknya bisa meningkatkan iman dan takwa kita kepada Allah swt. Dan di sisi lain juga harus bisa meningkatkan rasa nasionalisme yang ada.
Selain peringatan dua 17-an di atas, masih ada satu lagi peringatan 17 lain yang tidak boleh kita lupakan. Dimana kita setiap hari harus selalu menunaikan 17 rakaat sebagai wujud dari ibadah dalam ari khusus. Hal ini sangat penting karena sebagaimana difirmankan Allah swt. Bahwa tujuan diciptakannya jin dan manusia di muka bumi ini tak lain hanyalah utk beribadah kepada Allah, sebagaimana termaktub di Qur’an surat Adz Dzariyat ayat 56: wamaa kholaqtul jinna wal innsa illaa liya’ buduun, yang artinya: tidaklah aku ciptakan jin dan manusia, kecual hanya untuk beribadah kepadaku.
Sebagai wujud dari ibadah dalam makna yang lebih luas, tentunya kita juga harus mempau mewujudkan kesalehan social, dengan mengembangkan sikap suka membantu terhadap sesama, menegmbangkan tengggang rasa, toleransi serta tepo seliro. Sehingga peringatan 17 agustus, 17 romadhon (peringatan nuzulul qur’an ) dan 17 rakaat dalam keseharian kita bisa member kontribusi positif dalam kehidupan bermasyarakat, dengan cara men-sinerginakn setiap perbedaan yang ada di masyarakat.