Theatre of My Life

Jiwa yang Merdeka tak terbatas pada Dimensi Ruang & Waktu

Ayat-Ayat Cinta & Theokrasi

with one comment

Ayat-ayat Cinta (AAC) & Negara Teokrasi

Sebelumnya saya haturkan maaph kepada teman-teman yang sangat menyukai film ayat-ayat cinta. Saya sengaja menulis resensi ini karena kecintaan saya kepada produk dalam negeri.

***

Setelah melihat film yang diangkat dari novel karya Habiburrhaman El Shirazy ini, saya mempunyai beberapa catatan yang menarik. Film yang bersetting tempat di Mesir ini, bagi saya secara pribadi ga lebih hanya sintesa dari beberapa kisah cinta: antara Nabi Yusuf & Siti Zulaikha; Nabi Ibrahim & Siti Hajar serta Siti Sarah; Romeo & Juliet. Mungkin tulisan saya ini terlalu subyektif tapi saya tetap mencoba menghiasi tulisan ini dengan hal-hal yang faktual/nyata.

Terlepas dari segala keterbatasan yang ada dalam pembuatan film ini, aku sendiri hanya bisa berkata bahwa film ini boleh dibilang hanya proyek tendensius dari  segolongan orang yang memiliki tujuan akhir ”mendirikan negara teokrasi”.

Indikasinya apa? Lihat saja pesan-pesan yang secara tidak langsung ada pada film ini. Tokoh utama wanita, mengenakan cadar (burqo’), sementara tokoh utama pria, menyebarkan virus DT (Dua Teteh), atau virus DTK (Dua Tetek Kurang J . Sebagai orang Islam aku menghargai para akhwat yang mengenakan burqo, hijab atau apalah namanya, begitu juga dengan adanya Poligami yang bersandar pada Qur’an & Hadits.

Bagiku Film ayat-ayat cinta ini tak lebih hanya mengandung pesan-pesan  dari kaum utopis yang memaknai Qur’an & Hadits secara Literal/Leksikal, tanpa memahami apa yang banyak orang sebut dengan local genus. Sungguh sangat naif jika kita melaksanakan ajaran Qur’an & Hadits, tanpa tahu apa sebab-sebab turunnya ayat-ayat Qur’an serta latar belakang Nabi Muhammad saw. men-Sabdakan Hadits tersebut.

Judul di atas sengaja aku tulis, karena ada beberapa hal yang sudah lama aku jadikan dugaan, dan sekarang sudah menjadi kenyataan. Dugaan yang pernah lahir di saat aku masih aktif di kemahasiswaan, sering tour of duty mewakili institusi pendidikan yang harus aku tinggalkan (karena alasan tertentu) dan sepertinya institusi pendidikan itu tak akan pernah mengakui kapasitas akademik-ku. Dugaan-dugaan itu diantaranya adalah bahwa lahirnya forum2 yang  sok islami, intelek dan memperjuangkan kondisi masyarakat (baik di kampus ataupun di luar kampung)  itu ternyata memang digerakkan oleh golongan tertentu. Bahkan yang membuat aku agak terperangah adalah bahwa lahirnya UU Zakat sepertinya sudah mereka sambut (beberapa saat sebelumnya), dengan pendirian forum-forum yang kedengarannya sok islami juga, padahal kalau ditelusuri lebih dalam, mereka tak lebih hanya memperjuangkan kepentingan golongan/partai tertentu saja. Yahhhhhhhh semoga saja dengan jargon transparansi, terpercaya, auditable, lebih bermanfaat, yang mereka usung bisa menyadarkan masyarakat bahwa, zakat, infak, shodaqoh, serta waqaf yang masyarakat salurkan melalui lembaga-lembaga bentukan mereka, tidak dijadikan semacam APBN/ ATM berjalan bagi kepentingan golongan/ partai manapun. Karena tentu masyarakat mengeluarkan zakat, infaq, shodaqoh serta wakaf sekalipun, bertujuan untuk mengimplementasikan salah satu ajaran Islam yang menyatakan bahwa Islam adalah agama rahmatalllil ‘aalamin, bukan agama yang mengagungkan ashobiyah /chauvinisme.

Paragraf sebelumnya sengaja aku tulis, karena dari beberapa majalah donatur infak shodaqoh, serta serta zakat, yang diterbitkan oleh lembaga pennyalur ZIS tertentu, hanya  menampilkan tokoh dari golongan/partai tertentu,  Alamaaaak!!!!!  What a shame Bro!?!!???.  Memangnya ZISWAF masyarakat itu penyalurannya hanya diperuntukkan bagi golongan tertentu ya????? Walau atas nama dakwah????  Wallahu a’ lam.

Kembali ke masalah Film ini, beberapa saat setelah pemutaran film AAC ini, beberapa artis yang jadi pemeran utamanya  mengunjungi salah seorang tokoh politik, dan ternyata si tokoh politik ini kemudian menonton film ini, apa ini bukan sebuah vicious circle, sebagaimana Yahudi menguasai Hollywood? Menarik dunk jika penguasaan dunia hiburan yang ada (jangan-jangan menggunakan dana masyarakat) atas nama dakwah, tapi peruntukkannya untuk golongan tertentu????? Dan sekedar dicatat,  novel inipun konon lahir dari sebuah forum (lagi-lagi forum) yang dibidani oleh golongan tertentu….. huhuhuhu.

NEXT  ==> alasanku RESIGN

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Written by mochammadmalik

Maret 15, 2008 pada 3:36 pm

Ditulis dalam Uncategorized

Satu Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Dalam banget lik, terserah mo ngomong apa tentang AAC yang jelas aku paling ga suka filem yang ada (baca=banyak) nangis-nangisnya,apapun model point of view-nya

    Eko

    Juni 29, 2008 at 10:54 am


Tinggalkan Balasan