The Rising Spirit, Thanx Sir…..
Edisi kali ini relatif tertunda, terutama tulisan masalah kenaikan BBM, meski sudah selesai belum di posting juga, karena kurang ada benang merah antara pendahuluan, isi dan bagian penutup/solusi. Planning untuk posting tiap minggu (sehingg 1 tahun ada 52 postingan), bahkan saban hari, hanya menjadi utopia sampai dengan detik ini, karena banyakanya kesibukan dan tanggung jawab yang menguras fisik, emosi, pikiran serta waktu.
Rencanaku untuk melanjutkan studi, aku coba realisasikan secepatnya sekiranya persiapan yang ada sudah benar-benar fix. Btw medio 4 Juni kemarin ke UNAIR ikut seminta gratisannya ISMEI, alhamdulillah bertemu pak erani, dosen FE UB, yang kini ternyata juga aktif di INDEF, meskipun kapasitas akademis beliau sangat bagus, sikap low profile dan andhap asor terhadap sesama selalu dijaga. Di jaman seperti ini, jarang sekali orang yang memiliki karakter seperti beliau, orang kalau kapasitas akademiknya sudah tinggi, ya sudah sok jaim, tapi beliau kayaknya ga pernah berubah, dari jaman beliau saat, mengerjakan laporan /proposal, hingga larut malam sampai sekarang, sifat low profile dan cenderung menjunjung kebersamaan/kesetaraan ga pernah hilang. Mungkin beliau memnag benar-benar “calon orang besar” di negeri ini, yang akan mewarnai perjalanan bangsa ini melalui buku-buku beliau. Bahkan kalau boleh beropini, pengalamanku saat aktif di berbagai Kepanitiaan seminar sehingga bisa berdiskusi(bahkan pernah satu mobil dengan salah satu atau salah dua di antara mereka) dengan orang-orang macam Prof. Sri Edi Swasono, Aries Mufti (lupa gelarnya, ni orang dulunya Dirut PNM), Adiwarman Azwa Karim(ekonom Islam yang waktu itu vice president Muamalat Institute) dan banyak lagi lainnya, ada kesamaan sifat: Low profile, sabar dan selalu membuat orang lain comfort saat berada di dekat mereka.
Hal lain yang membuat aku agag terharu serta terenyuh adalah saran, nasihat serta dorongan semangat dari pak erani untuk menuntaskan studiku secepatnya, entah via SMS ataupun bicara face 2 face saat di UNAIR. Jarang sekali aku mendpaat dorongan semangat dari orang yang akhir-akhir ini kiprahnya banyak menghiasi media elektronik. Terima kasih pak atas segala ilmu yanga bapak berikan, juga buat Ernesto “Jay” Gue vera
yang sudah berkarya di HBC (Habibie Center), atas info-infonya selama ini.
Ayat-Ayat Cinta & Theokrasi
Ayat-ayat Cinta (AAC) & Negara Teokrasi
Sebelumnya saya haturkan maaph kepada teman-teman yang sangat menyukai film ayat-ayat cinta. Saya sengaja menulis resensi ini karena kecintaan saya kepada produk dalam negeri.
***
Setelah melihat film yang diangkat dari novel karya Habiburrhaman El Shirazy ini, saya mempunyai beberapa catatan yang menarik. Film yang bersetting tempat di Mesir ini, bagi saya secara pribadi ga lebih hanya sintesa dari beberapa kisah cinta: antara Nabi Yusuf & Siti Zulaikha; Nabi Ibrahim & Siti Hajar serta Siti Sarah; Romeo & Juliet. Mungkin tulisan saya ini terlalu subyektif tapi saya tetap mencoba menghiasi tulisan ini dengan hal-hal yang faktual/nyata.
Terlepas dari segala keterbatasan yang ada dalam pembuatan film ini, aku sendiri hanya bisa berkata bahwa film ini boleh dibilang hanya proyek tendensius dari segolongan orang yang memiliki tujuan akhir ”mendirikan negara teokrasi”.
Indikasinya apa? Lihat saja pesan-pesan yang secara tidak langsung ada pada film ini. Tokoh utama wanita, mengenakan cadar (burqo’), sementara tokoh utama pria, menyebarkan virus DT (Dua Teteh), atau virus DTK (Dua Tetek Kurang J . Sebagai orang Islam aku menghargai para akhwat yang mengenakan burqo, hijab atau apalah namanya, begitu juga dengan adanya Poligami yang bersandar pada Qur’an & Hadits.
Bagiku Film ayat-ayat cinta ini tak lebih hanya mengandung pesan-pesan dari kaum utopis yang memaknai Qur’an & Hadits secara Literal/Leksikal, tanpa memahami apa yang banyak orang sebut dengan local genus. Sungguh sangat naif jika kita melaksanakan ajaran Qur’an & Hadits, tanpa tahu apa sebab-sebab turunnya ayat-ayat Qur’an serta latar belakang Nabi Muhammad saw. men-Sabdakan Hadits tersebut.
Judul di atas sengaja aku tulis, karena ada beberapa hal yang sudah lama aku jadikan dugaan, dan sekarang sudah menjadi kenyataan. Dugaan yang pernah lahir di saat aku masih aktif di kemahasiswaan, sering tour of duty mewakili institusi pendidikan yang harus aku tinggalkan (karena alasan tertentu) dan sepertinya institusi pendidikan itu tak akan pernah mengakui kapasitas akademik-ku. Dugaan-dugaan itu diantaranya adalah bahwa lahirnya forum2 yang sok islami, intelek dan memperjuangkan kondisi masyarakat (baik di kampus ataupun di luar kampung) itu ternyata memang digerakkan oleh golongan tertentu. Bahkan yang membuat aku agak terperangah adalah bahwa lahirnya UU Zakat sepertinya sudah mereka sambut (beberapa saat sebelumnya), dengan pendirian forum-forum yang kedengarannya sok islami juga, padahal kalau ditelusuri lebih dalam, mereka tak lebih hanya memperjuangkan kepentingan golongan/partai tertentu saja. Yahhhhhhhh semoga saja dengan jargon transparansi, terpercaya, auditable, lebih bermanfaat, yang mereka usung bisa menyadarkan masyarakat bahwa, zakat, infak, shodaqoh, serta waqaf yang masyarakat salurkan melalui lembaga-lembaga bentukan mereka, tidak dijadikan semacam APBN/ ATM berjalan bagi kepentingan golongan/ partai manapun. Karena tentu masyarakat mengeluarkan zakat, infaq, shodaqoh serta wakaf sekalipun, bertujuan untuk mengimplementasikan salah satu ajaran Islam yang menyatakan bahwa Islam adalah agama rahmatalllil ‘aalamin, bukan agama yang mengagungkan ashobiyah /chauvinisme.
Paragraf sebelumnya sengaja aku tulis, karena dari beberapa majalah donatur infak shodaqoh, serta serta zakat, yang diterbitkan oleh lembaga pennyalur ZIS tertentu, hanya menampilkan tokoh dari golongan/partai tertentu, Alamaaaak!!!!! What a shame Bro!?!!???. Memangnya ZISWAF masyarakat itu penyalurannya hanya diperuntukkan bagi golongan tertentu ya????? Walau atas nama dakwah???? Wallahu a’ lam.
Kembali ke masalah Film ini, beberapa saat setelah pemutaran film AAC ini, beberapa artis yang jadi pemeran utamanya mengunjungi salah seorang tokoh politik, dan ternyata si tokoh politik ini kemudian menonton film ini, apa ini bukan sebuah vicious circle, sebagaimana Yahudi menguasai Hollywood? Menarik dunk jika penguasaan dunia hiburan yang ada (jangan-jangan menggunakan dana masyarakat) atas nama dakwah, tapi peruntukkannya untuk golongan tertentu????? Dan sekedar dicatat, novel inipun konon lahir dari sebuah forum (lagi-lagi forum) yang dibidani oleh golongan tertentu….. huhuhuhu.
NEXT ==> alasanku RESIGN
Poetry Rhapsody
Edisi perdana dari Blog ini, pada dasarnya tak lebih dari
upaya copas (copy paste), dari Blog-ku edisi
sebelumnya yang telah dicuri orang. Dengan hati dan
pikiran yang relatif jernih, aku coba meng-copas materi
yang masih bisa terselamatkan….
……………………………………………………
Involusi Struktural
Aku melihat banyak orang yang punya mimpi
Dan mereka berusaha mewujudkannya
Tapi mimpi mereka terpotong oleh cita-cita mereka
Dan ketika mereka mewujudkan cita-cita mereka
Cita-cita mereka pun kandas oleh kerja mereka
Aku juga melihat banyak orang yang bekerja keras
Tapi sayang beribu sayang…………
Hasil kerja keras mereka dinikmati oleh mereka….
Yang tidak pernah bekerja keras
(Sayid Sutup_Plagiat@Nahelove090805, Arema Vs P’Kabpas, We Win, but Still Chaos)
***
Nocturno
Aku pasti pulang…..
mungkin tengah malam
mungkin dinihari
mungkin juga subuh
pasti dan mungkin
tapi……..
jangan kau tunggu
(Taken@UNS, Solo, 26th of May 2003, ISMEI, as Ministry of HRD, Battle of Malik)
***
kau pandangi diri
di tengah bunga-bunga mawar
sementara kau sendiri lupa
memandang mahkota di atasnya
(Quoted From: Ely Abu Hamdi, Banyuwangi 110903, Sorry 2 Old Maiden)
*****
Pengakuan
aku bukanlah cendekiawan
yang dibesarkan menara gading kampus
bukan pula aktivis yang besar di jalanan
aku hanya orang biasa
yang mencoba menjadi cendekia
dan pernah menjadi aktivis
tapi aku tetap dekat
dengan mereka yang berdomosili
di tiap pojokan jalan & sudut kehidupan
namun berjiwa merdeka
aku hanyalah
orang yang mencoba menjadi cendekia, aktivis
tapi tak pernah munafik bahwa aku
besar di jalanan
(naheloVE, 31/08/2005; takdhiM 2 ca’ nur)
*****
Musuh yang sangat kita cintai
adalah
N a f s u……………………………………….
Ketika Nafsu BERKUASA MEMUNCAK
mAKA Kekuasaan menjadi tuhan
panglima perangnya adalah penghianatan
karena pada saat yang sama
kesetiaan hanya janji murahan
Dan sang khaliq pun menyindir kita
sebagaimana menyindir S1 yahudi :
”mulut kalian penuh dengan busa-busa pentingnya
persatuan
tapi hati kalian terpecah belah”
Hello world!
Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!